Candi Jago: Simbol Penghormatan Untuk Leluhur Majapahit


Wisata Sejarah Candi Jago adalah salah satu candi yang berada di gerbang timur Kota Malang, tepatnya di Desa Tumpang. Objek wisata ini berdimensi panjang 23 meter dan lebar 15 meter dan terbuat dari batuan andesit. Wisata Sejarah Candi Jago, yang juga disebut Wisata Sejarah Candi Tumpang, menurut Negarakrtagama dinamai Jajaghu, sebagai salah satu candi pendharmaan bagi Wisnuwarddhana yang wafat pada tahun 1190 S (1268 M) serta diwujudkan sebagai Sugata (Budha). Raja Majapahit, Hayam Wuruk, konon juga pernah mampir ke candi ini untuk melakukan kunjungan ziarah ke makam leluhurnya ini pada 1363. Candi Jago diperkirakan mulai dibangun tahun 1280, atau 12 tahun setelah wafatnya Wisnuwarddhana.

Wisata Sejarah Candi Jago sendiri tampaknya pernah dipugar pada tahun 1265 S (1343 M) oleh Adityawarman. Perbaikan candi tampaknya berlanjut beberapa kali pada kurun akhir Majapahit yakni pada pertengahan abad ke-15.

Candi Jago memiliki arsitektur yang unik karena mirip dengan punden berundak-undak yang merupakan ciri bangunan religi zaman megalithikum yang mengalami kebangkitan kembali pada masa akhir Majapahit.

Rangka bangun Wisata Sejarah Candi Jago sudah tidak utuh lagi. Saat ini yang tersisa hanya bagian kaki dan sebagian kecil badan candi. Belum ada yang memastikan, bagaimana bentuk asli dari atap candi tersebut. Banyak spekulasi menyebutkan bahwa atapnya berbentuk meru atau pagoda serta dilapisi dengan ijuk layaknya pura-pura di Bali.

Sejarahwan Prijohutomo (1953) berpendapat lain dengan mendukung anggapan Stutterheim bahwa atap Candi Jago terbuat dari kayu dan berupa atap bersusun, serta susunan bangunan candi terdiri dari tiga tingkatan teras, tubuh candi yang ramping, dan atap meru bersusun yang tinggi. Menariknya, nama Desa Tumpang (dari bahasa Jawa Kuno yang berarti lapis) kemungkinan juga berasal dari bentuk candi tersebut.

Di Wisata Candi Jago juga terdapat arca Amoghapasa, dewa tertinggi dalam agama Budha Tantra, yang memiliki delapan tangan dan sebagai perwujudan dari Wisnuwarddhana, sebagaimana disebut dalam Negarakrtagama. Sayangnya, arca Amoghapasa ini bagian kepalanya telah hilang. Selain itu, terdapat pula arca Bhairawa yang bagian kepalanya juga telah hilang serta beberapa arca kecil lainnya. Beruntung, beberapa arca masih sempat diselamatkan dan disimpan di Museum Nasional Jakarta, yaitu arca-arca Sudhanakumara, Qyama Tara, Bhrkuti, Hayagriwa, Aksobhya, Ratnasambhawa, Mamaki, Pandurawasini, dan Locana.

Pahatan-pahatan pada Wisata Candi Jago mengandung ajaran moral yang tinggi dan menceritakan dua agama yang dianut Wisnuwarddhana, yaitu relief bersifat Budhistis memuat cerita Tantri Kamandaka dan Kunjarakarna, sedangkan relief-relief bersifat Hinduistis memuat cerita Parthayajna, Arjunawiwaha, dan Kresnayana. Pada cerita Tantri menggambarkan tingkah laku manusia yang dilambangkan pada tingkah laku binatang.

Sementara Kunjarakarna menceritakan usaha makhluk setengah dewa (Kunjarakarna) dalam mencapai jalan kebenaran. Parthayajna menceritakan kehidupan Pandawa yang terkena akal liciknya Kaurawa. Arjunawiwaha menceritakan perkawinan Arjuna dengan bidadari Supraba. Kresnayana menceritakan pertempuran Kresna melawan raksasa Kalayawana.

Jam Operasional

Wisata Sejarah Candi Jago buka mulai pukul 07.00-16.00 WIB.

Harga Tiket Masuk

Untuk memasuki kawasan Wisata Sejarah Candi Jago ini tidak dikenakan biaya. Tetapi bila pengunjung menginginkan informasi lebih detil tentang sejarah candi, pihak pengelola menyediakan buku informasi seputar Candi Jago lengkap dengan keterangan relief-reliefnya seharga Rp 15.000.

Peta Lokasi



Diolah dari berbagai sumber.
Previous Post
Next Post