Candi Singosari / Singhasari, Cikal Bakal Kerajaan Terbesar Nusantara


Candi Singosari / Singhasari adalah peninggalan Kerajaan Singosari. Kerajaan Singosari Salah satu kerajaan besar di daerah Jawa Timur ini memiliki beberapa bukti peninggalan sejarah yang berharga. Peninggalan terbesarnya adalah Candi Singosari yang terletak di Kabupaten Malang, tepatnya di Jalan Kertanegara Desa Candirenggo, Kecamatan Singosari. Jaraknya hanya sekitar 10 km dari Kota Malang.

Candi Singosari / Singhasari ini memiliki beberapa sebutan seperti Candi Renggo, Candi Menara, Candi Cungkup, dan Candi Cella. Sebutan yang terakhir ini merujuk pada 4 buah celah yang terdapat di tubuh candi. Namun kini nama yang lebih populer untuk menyebut candi ini adalah Candi Singosari karena letaknya di Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang.

Mengunjungi Candi Singosari, Anda diajak untuk napak tilas dalam dunia imajinatif abad ke-13. Anda dapat melihat berbagai reruntuhan bangunan kompleks candi yang disebut menjadi pusat pemerintahan Kerajaan Singosari masa lampau. Melihat aneka bentuk bangunan fisik beratus-ratus tahun lalu, memberikan pengalaman luar biasa bagaimana hebatnya budaya, ilmu pengetahuan serta kehidupan di masa lampau.

Keberadaan Candi Singosari memberikan sebuah bukti nyata akan kehadiran Kerajaan Singosari. Kerajaan besar di nusantara yang juga memiliki kisah kelam dalam dinastinya, tetapi di kemudian hari menjadi cikal bakal berdirinya kerajaan terbesar di nusantara lampau yaitu Majapahit.

Candi ini terletak dalam suatu area kompleks yang tertata rapi dan dihiasi taman yang cantik serta jalan setapak. Anda dapat menikmati kompleks Candi Singosari yang dibalut suasana alam pegunungan serta udara yang cukup sejuk. Candi Singosari terletak di ketinggian 512m di atas permukaan laut, serta berada di antara lembah pegunungan Tengger dan Gunung Arjuna. Puaskan diri Anda untuk berkeliling melihat jejak sejarah kerajaan ini yang tergambar dari berbagai ukiran di sekeliling candi serta desain arsitektur candi yang penuh nilai filosofis.

Legenda

Berdasarkan Prasasti Kudadu, nama resmi kerajaan Singosari adalah Tumapel. Menurut kitab Negarakertagama, ketika pertama kali didirikan ibu kota kerajaan Tumapel adalah Kutaraja. Kerajaan ini didirikan oleh Ken Arok pada tahun 1222. Ia menjadi raja dengan membunuh bupati Tumapel Tunggul Ametung dan memperistri Ken Dedes, istri Tunggul Ametung. Kemudian Ken Arok memberontak pada Kerajaan Kediri pemerintahan Kertajaya.
Keberadaan Candi Singosari tidak dapat dilepaskan dari Ken Arok sebagai pendiri kerajaan Singosari. Menurut legenda, Ken Arok adalah anak hasil hubungan gelap Gajah Para dari Desa Campara dengan seorang wanita Desa Panawijen bernama Ken Endog. “Gajah” adalah nama jabatan setara pembantu bupati pada masa Kerajaan Kediri. Untuk menutupi aib, bayi Ken Arok dibuang oleh ibunya di sebuah pekuburan, tak lama setelah ia dilahirkan.
Bayi Ken Arok kemudian ditemukan dan diasuh oleh seorang pencuri ulung, bernama Lembong. Ken Arok tumbuh menjadi seorang anak nakal dan berandalan yang gemar berjudi dan mabuk-mabukan. Karena ulah tingkahnya ini, Lembong mengusir Ken Arok yang dianggap membebani dan merusak nama keluarga Lembong.

Kemudian Ken Arok diasuh oleh seorang penjudi lain yang bernama Bango Sampar. Bango Sampar percaya bahwa Ken Arok kelak akan membawa keberuntungan. Namun, Ken Arok tidak betah menjadi anak angkat Genuk Buntu istri tua Bango Sampar. Ia meninggalkan rumah dan berkawan dengan Tita, anak seorang kepala Desa Siganggeng, yang sama-sama nakal. Berdua, mereka Ken Arok dan Tita, menjadi pasangan perampok dan pencuri yang disegani di wilayah kekuasaan Kerajaan Kediri.

Suatu saat Ken Arok bertemu dengan seorang brahmana dari India yang bernama Lohgawe. Lohgawe adalah seorang brahmana yang pergi ke Jawa untuk mencari titisan Wisnu. Melalui pertemuan ini, Lohgawe percaya bahwa Ken Arok adalah titisan Wisnu yang selama ini dia cari. Setelah mendapat pencerahan dan bantuan dari Lohgawe, akhirnya Ken Arok mau meninggalkan dunia hitam dengan begabung menjadi prajurit Kerajaan Kediri.

Pada satu kesempatan Ken Arok dipercaya mengawal kereta Ken Dedes yang sedang berkunjung ke rumah ayahnya Mpu Purwa yang tinggal di Panawijen. Ken Dedes adalah istri Tunggul Ametung yang menjabat sebagai akuwu Tumapel. Saat turun dari kereta, kain penutup Ken Dedes tersingkap, dan Ken Arok takjub melihat betis Ken Dedes. Di mata, Ken Arok betis Ken Dedes seolah memancarkan sinar yang menyilaukan. Bayangan pemandangan tersebut tak mau hilang dari benak Ken Arok. Ia lalu menanyakan hal itu kepada Mpu Purwa. Sang Mpu menjelaskan bahwa sinar yang dilihat Ken Arok merupakan pertanda bahwa Ken Dedes ditakdirkan sebagai wanita yang akan menurunkan raja-raja di Pulau Jawa.

Ken Arok bersumpah akan menjadikan Ken Dedes sebagai istrinya. Ken Arok kemudian memesan sebuah keris kepada seorang Mpu di Tumapel yang bernama Mpu Gandring. Untuk membuat sebuah keris yang dapat diandalkan keampuhannya, diperlukan waktu yang cukup lama untuk menempa, membentuk dan menjalankan ritual yang diperlukan. Karena keris yang dipesan tak kunjung selesai, Ken Arok menjadi sangat marah. Ia merebut keris yang belum selesai tersebut lalu menikamkannya ke tubuh pembuatnya. Menjelang ajalnya, Mpu Gandring mengutuk bahwa Ken Arok pun akan mati di ujung keris yang sama dan keris itu akan meminta korban tujuh nyawa.

Untuk melancarkan siasatnya menguasai Ken Dedes, mula-mula keris buatan Mpu Gandring tersebut oleh Ken Arok dipinjamkan kepada temannya yang mempunyai watak suka pamer, yaitu Kebo Ijo. Kebo Ijo memamerkan keris itu kepada teman-teman prajuritnya dan mengatakan bahwa keris itu adalah miliknya. Setelah banyak orang yang mengetahui keris itu milik sebagai milik Kebo Ijo, Ken Arok lalu mencurinya dan menggunakannya untuk menikam Tunggul Ametung. Ken Dedes menjadi saksi saat Ken Arok menikam Tunggul Ametung, namun Ken Dedes diam saja. Ken Dedes sendiri memang tidak suka pada Tunggul Ametung yang telah menculik dan memaksa Ken Dedes menjadi istrinya.
Setelah Tunggul Ametung tewas, dengan sendirinya tuduhan jatuh kepada Kebo Ijo yang diketahui sebagai pemilik keris tersebut. Kebi Ijo akhirnya dihukum mati dan Ken Arok diangkat menjadi akuwu menggantikan Tunggul Ametung. Setelah menjadi akuwu Tumapel, Ken Arok menikahi Ken Dedes, sang pujaan hatinya yang pada waktu itu sedang mengandung anak Tunggul Ametung yang kelak dinamakan Anusapati.

Tidak lama setelah berhasil menjadi akuwu Tumapel, Ken Arok kemudian menaklukkan Kerajaan Kediri, yang kala itu diperintah oleh Raja Kertajaya (1191-1222), dan mendirikan Kerajaan Singosari. Ia menobatkan dirinya menjadi raja Singosari yang pertama dengan gelar Rajasa Bathara Sang Amurwabhumi.
Setelah Anusapati lahir, Ken Arok mendapatkan seorang putra dari Ken Dedes, bernama Mahisa Wonga Teleng. Sedangkan dari selir yang bernama Ken Umang, ia juga mendapatkan seorang putra bernama Tohjaya.

Sebagai anak tertua, Anusapati merasa dirinya dianaktirikan dibandingkan dengan saudara-saudaranya. Anusapati lalu bertanya kepada ibunya Ken Dedes, mengapa sikap ayahnya seperti itu. Dengan terpaksa, Ken Dedes bercerita bahwa Anusapati memang bukanlah anak Ken Arok, melainkan anak Tunggul Ametung yang tewas dibunuh oleh Ken Arok menggunakan keris bertuah buatan Mpu Gandring.

Dengan bantuan Ken Dedes, akhirnya Anusapati bisa mendapatkan keris bertuah Mpu Gandring yang selama ini tersimpan. Kutukan Mpu Gandring mulai berlaku. Ken Arok dibunuh dan digantikan kedudukannya oleh Anusapati. Anusapati dibunuh dan digantikan kedudukannya oleh Tohjaya. Tohjaya dibunuh dan digantikan oleh Ranggawuni, anak Anusapati. Ranggawuni kemudian dinobatkan sebagai raja dengan gelar Jayawisnuwardhana dan memerintah Singosari mulai pada tahun 1227 hingga 1268. Jayawisnuwardhana digantikan oleh putranya, Joko Dolog yang bergelar Kertanegara (1268-1292).

Setelah melewati sejarah pergantian kekuasaan yang kelam dengan Keris Mpu Gandring yang berdarah, Kerajaan Singosari mengalami puncak kejayaan pada masa pemerintahan Kertanegara. Pada 1275 dan 1291,Kertanegara berhasil memperluas kekuasaannya hingga Sumatera setelah menyerang kerajaan maritim besar, Sriwijaya. Daerah kekuasaan Singosari yang berkembang luas membuat Kaisar Mongol Kubilai Khan menaruh perhatian khusus.

Perselisihan dengan Kubilai Khan serta pemberontakan di dalam Kerajaan Singosari oleh Jayakatwang menjadi titik kehancuran kerajaan besar ini. Bahkan Kertanegara sendiri kehilangan nyawanya di tengah pertempuran.

Kertanegara adalah Raja Singosari yang terakhir. Pemerintahannya ditumbangkan oleh Raja Kediri, Jayakatwang. Namun Jayakatwang berhasil dikalahkan oleh menantu Kertanegara yang bernama Raden Wijaya. Raden Wijaya yang merupakan keturunan Mahisa Wonga Tteleng dan Raja Udayana di Bali ini kemudian mendirikan kerajaan Majapahit dengan pusat pemerintahan di Tarik (Trowulan).

Bentuk Bangunan

Menurut sumber pada Kitab Negarakertagama pupuh 37:7 dan 38:3 serta prasasti Gajah Mada bertanggal 1351M, candi ini merupakan tempat pendharmaan/pemberian penghargaan bagi raja Singosari terakhir yaitu Kertanegara yang meninggal pada tahun 1292 M. Kertanegara meninggal setelah bertarung dengan Raja Jayakatwang dari Kediri.

Candi Singosari ditemukan oleh pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1803 oleh Nicolaus Engelhard, yang menjabat Gubernur Pantai Timur Laut Jawa. Hampir seratus tahun kemudian, tepatnya tahun 1901, Komisi Arkeologi Belanda melakukan penelitian ulang dan penggalian. Pada tahun 1934 Departemen Survey Arkeologi Hindia Belanda Timur melakukan upaya restorasi bangunan hingga selesai pada tahun 1937.

Candi Singosari memiliki tinggi sekitar 15 meter dan berdiri pada sebuah alas yang berbentuk bujur sangkar dengan ukuran 14 meter x 14 meter. Letaknya tepat di tengah-tengah halaman kompleks. Pintu utama candi menghadap ke arah barat dengan sebuah ruang utama di dalamnya. Di ruang utama ini terdapat Lingga Yoni. Ketiga celah yang lain memiliki bilik masing-masing yang berisi arca Durga di sisi utara, arca Ganesha di sisi timur, dan arca Resi Agastya di sisi selatan. Namun, arca yang masih tersisa saat ini hanya arca Resi Agastya di sisi selatan. Arca yang lain ada yang hilang, berpindah tempat, maupun disimpan di museum Leiden Belanda. Di kanan kiri candi utama ini terdapat banyak reruntuhan arca, seperti arca Durga, Lembu Nandini, serta arca Syiwa dalam berbagai posisi dan ukuran.

Jangan lupa juga untuk memperhatikan secara teliti dua arca penjaga dengan tinggi kurang lebih 4meter. Lokasi arca ini kurang lebih 100 meter ke arah barat Candi Singosari. Arca itu dikenal juga dengan nama Dwarapala. Perhatikan pada arah gada (tongkat) yang dipegang arca tersebut, arahnya menghadap bawah. Maksudnya secara filosofis adalah walaupun penjaganya raksasa, tetapi masih ada rasa kasih sayang terhadap semua makhluk hidup dan sebuah ungkapan selamat datang. Tampilan Dwarapala yang memegang gada ke arah bawah tidak akan pernah dijumpai di candi-candi yang lain.

Hal unik lain dari Candi Singosari adalah letak ruang utama dan bilik-biliknya. Kaki candi berfungsi sebagai tempat ruang utama dan bilik-biliknya. Padahal pada candi-candi di Jawa yang lain, kaki candi adalah dasar candi. Pada badan candi, walaupun tidak menempatkan patung-patung utama, namun masih diberikan pola relung-relung kecil. Sementara atap candi tidak dapat direkonstruksi secara sempurna. Alhasil, masih misteri apakah atap Candi Singosari yang sebenarnya adalah tinggi menjulang seperti Candi Jawi atau pendek datar seperti Candi Kidal.

Perhatikan pula ukiran-ukiran di batu andesit Candi Singosari. Dari atas hingga tengah candi, terdapat ukiran-ukiran indah seperti candi-candi pada umumnya. Namun, dari bagian tengah hingga bawah terkesan polos. Hal ini terlihat jelas pada hiasan kepala kala yang terletak di setiap bagian atas pintu ruang baik di kaki maupun tubuh candi. Tidak diketahui secara jelas mengapa terjadi demikian. Namun, teori yang paling populer mengatakan bahwa penyebabnya karena pembangunan Candi Singosari harus terhenti karena Kerajaan Singosari diserang oleh tentara Jayakatwang.
Terdapat beberapa anggapan mengenai tujuan didirikannya Candi Singosari ini. Banyak yang menganggap bahwa candi ini adalah makam Raja Kertanegara yang merupakan raja terakhir Singosari. Akan tetapi pendapat ini diragukan oleh banyak ahli.

Jam Operasional

Candi Singosari buka setiap hari mulai pukul 07.30 am - 16.30 pm

Harga Tiket

Tiket masuk Candi Singosari sebesar Rp. 5.000 untuk dewasa dan Rp. 3.500 untuk anak-anak. Anda dapat membelinya di pos terima tamu yang terletak di halaman depan kompleks candi. Anda juga akan diminta mengisi buku tamu sebagai syarat administrasi.

Akses Lokasi

Dari arah Malang: Anda cukup mengikuti jalan raya utama yang menghubungkan Surabaya-Malang. Keluar dari jalan raya Ahmad Yani, lurus saja melewati fly over, pertigaan Karanglo. Setelah itu, Anda akan melewati area Mondoroko Singosari. Terus saja hingga melewati rel kereta api. Setelah rel kereta api, pelankan laju kendaraan Anda. Lurus terus sekitar 500 meter hingga menemukan gerbang di sebelah kiri jalan yang bertuliskan Kawasan Wisata Purbakala. Belok kiri masuk ke dalam gerbang tersebut dan lurus terus kurang lebih 300 meter. Anda akan dapat menjumpai kompleks Candi Singosari di sisi kanan jalan.

Dari arah Surabaya: Anda cukup mengikuti jalan raya utama yang menghubungkan Surabaya-Malang. Ketika memasuki area Pasar Singosari, lurus terus tetapi pelankan laju kendaraan Anda. Kurang lebih 50 meter sebelum melewati rel kereta api, putar balik kendaraan Anda, kemudian ambil sisi kiri jalan. Nantinya, Anda akan menemukan gerbang di sisi kiri yang bertuliskan Kawasan Wisata Purbakala. Belok kiri masuk ke dalam gerbang tersebut dan lurus terus kurang lebih 300 meter. Anda akan dapat menjumpai kompleks Candi Singosari di sisi kanan jalan.
Bagi pengguna angkutan umum, Anda bisa naik jalur LA (Lawang - Arjosari) yang berwarna hijau dari Terminal Arjosari Malang. Turun di gerbang Kawasan Wisata Purbakala Singosari, dan berjalan kaki kurang lebih 300 meter ke arah barat.

Peta Lokasi



Diolah dari berbagai sumber.
Previous Post
First